20.11.10

Jadi Ibu Ga Boleh Lupa Jadi Istri!


Tersentak (lebay!) ketika membaca satu note di #fb, "Jangan Lupa Menjadi Isteri ketika Bergelar Ibu". Maksudnyaaaa? Karena judulnya menarik, terus kubaca postingan itu, walo agak tersendat karena yang posting orang Malaysia.

Setelah setengah membaca postingannya, jadi terinspirasi untuk posting juga. Terpaksa cuma setengah bacanya karena momz udah ehm-ehm untuk matiin kompi melihat jam browsing udah lewat banget! (baca: kemaleman). Jadi mau ga mau, dengan berat hati dan beratnya badan (yang kedua ga ada hubungannya), saya mematikan kompi.

Sekarang postingannya mulai serius ya, di atas cuma pengen aja sesekali posting rada-rada ga jelas :P

Menurut postingan itu, entah berapa banyak seorang ibu memiliki anak: satu, dua anak, 5 anak, 10 anak, biasanya akan "sedikit-banyak" melupakan perannya sebagai istri. Tanpa mengindahkan betapa penat ditambah stresnya kegiatan suami ketika bekerja, istri cuek aja ketika suami pulang.

Dulu biasanya ketika suami pulang, "Abi, mau dibikinin minum apa?" "Abi, mau dinner apa?" "Abi cape nih keliatannya, mau cerita?". Pokoknya segala perhatian dicurahkan oleh istri, semata-mata bentuk pengabdian istri terhadap suami. Eittss.. Pengabdian disini bersifat positif ya, maksudnya memberikan kasih sayang dan perhatian kan sudah jadi kewajiban suami istri biar langgeng gtu... *sok tau padahal baru mau memulai*

Ketika sudah ada anak, "Abi, makanan sudah ada tuh, ambil sendiri ya" "Apa?! Minta diambilin minum? Ambil sendiri deh, aku lagi sibuk ngurus anak nih!"

Menurut postingan ini, dua paragraf di atas, menandakan bagaimana seorang wanita melupakan perannya sebagai seorang istri ketika sudah bergelar ibu. Hmmm... Make sense!

Menurut saya sih, ini bisa dilihat dari berbagai sisi. Pertama, seorang suami selayaknya mengerti posisi seorang istri yang sekaligus menjadi ibu, ketika istri sedang mengurus anak dan tak bisa ditinggal urusannya, sebaiknya suami membantu pekerjaan istri dengan memenuhi kebutuhannya sendiri jika memang mampu. Atau menunggu istri, sampai urusannya selesai jika memang bisa menunggu.

Kedua, perlu adanya komunikasi dan saling mengingatkan dengan penuh kelembutan (baca: ga marah or sewot) bagaimana sebaiknya peran istri bisa terus dilakukan tanpa mengganggu peran ibu.

Ketiga, setelah nulis poin satu dan dua, baru nyadar kalo ternyata menjadi seorang istri sekaligus ibu ga gampang ya, hikss... Maafkan aku momz, jika pernah terucap kata, terbentuk sikap, atau perilaku yang mengganggu hatimu, maafin ya momz! Luv u!

Lanjut... Disini saya melihat seorang wanita harus cerdas dan pintar. Kenapa? Karena tanpa kecakapan, kepekaan, kelembutan, kecerdikan, daya kreasi, dan kreatifitas yang tinggi, seorang wanita akan sangat keteteran! Huufftt!

Untuk itu, saya pengen standing applause buat semua Ummi di luar sana, u have done a great job! Semoga saya bisa jadi kandidat terbaik untuk peran dobel ini, amiin.


Gambar dari sini.

3 silaturahim:

echaimutenan | November 21, 2010 at 1:12 AM  

amiiiiiiiiiiiin

cucuharis | November 21, 2010 at 1:48 PM  

Yg lebih parah lagi kadang ada istri yang lupa tgasnya sebagai istri karena kerjaan/ karirnya :D

ENENG OCHA | November 23, 2010 at 9:14 AM  

@ kang Achoey
iya, semoga jalan kita selalu diberkahi Allah, amiin.

@ Echa
amiin ya Robb :)

Tu comentario será moderado la primera vez que lo hagas al igual que si incluyes enlaces. A partir de ahi no ser necesario si usas los mismos datos y mantienes la cordura. No se publicarán insultos, difamaciones o faltas de respeto hacia los lectores y comentaristas de este blog.