18.10.10

Ummu Sulaim

Sudah lama pengen posting, tapi tertunda melulu karena ini dan itu. Dalam benak ingin sekali posting salah satu shahabiyah Rasulullah saw. Mereka bukan hanya sekedar sahabat, tetapi “sepak terjang” mereka yang membuat saya hmm… apa ya… berdecak kagum sih ga segitunya, tapi sangat mengagumi di dalam hati
MyEm0.Com

Salah satu shahabiyah Rasulullah yang saya ingat adalah Ummu Sulaim, sebenernya nama aslinya Syahlah binti Mulhan bin Khalid bin Zaid bin Haram. Suatu ketika beliau didekati oleh Abu Thalhah, yang bermaksud meminang Ummu Sulaim. Abu Thalhah adalah seorang saudagar kaya raya, banyak wanita Anshar yang sangat memujanya karena kekayaannya. (dari dulu cewe matre udah ada brarti ya… :P)

Ketika Abu Thalhah datang meminang, Ummu Sulaim berkata, “Demi Allah tak ada satu pun alasan yang bisa membuatku menolak lamaranmu itu. Namun, sangat disayangkan sekali, engkau adalah seorang kafir, sedang aku adalah seorang muslim. Oleh karena itu, aku tak mungkin menikah denganmu. Seandainya engkau bersedia masuk Islam, itu akan aku anggap sebagai mas kawinku, dan aku tak akan meminta selain dari itu”.

Rupanya pernyataan Ummu Sulaim sangat menyentuh perasaan Abu Thalhah sehingga membuatnya yakin bahwa wanita ini tidak mengincar kemewahan dunia sedikit pun. Abu Thalhah pun berucap berulang-ulang, “Aku berada di atas apa yang kamu yakini, aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang hak kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”. Mendengar hal tersebut, Ummu Sulaim pun bersedia menikah dengan Abu Thalhah.

Mereka kemudian hidup dengan nilai-nilai Islam sebagai pasangan suami istri. Tak lama, Allah memberikan mereka anugerah, seorang anak laki-laki yang menjadi penyejuk kehidupan bagi mereka berdua, namanya Abu Umair. Allah berkehendak untuk menguji keduanya, anak yang sangat mereka cintai jatuh sakit. Ketika Abu Thalhah keluar dari masjid, bersamaan itu pula Abu Umair meninggal. Sudah jadi kebiasaan Abu Thalhah apabila kembali ke rumah, setelah mengucap salam kemudian bertanya keadaan anaknya.

Ummu Sulaim yang menemani sang anak, kemudian membaringkan di tempat tidur sembari mengulang, “Innalillahi wa inna ilaihi rojiun”. Setelah itu, Ibu yang telah ridho dengan kepergian anaknya berpesan kepada anggota keluarganya, “janganlah kalian menceritakan kepada Abu Thalhah hingga aku sendiri yang menceritakan kepadanya.”

Ketika Abu Thalhah sampai dirumah, ia bersiap sebagai seorang istri dan mengusap air matanya. Abu Thalhah bertanya, “Bagaimana keadaan anakku?”. Beliau menjawab, “dia dalam keadaan tenang.”. Abu Thalhah mengira anaknya dalam keadaan sehat dan gembira, tapi tidak mau mendekat karena khawatir akan mengganggu ketenangannya.

Sementara Ummu Sulaim mempersiapkan makan malam bagi suaminya, bersolek lebih cantik dari biasanya, mengenakan baju lebih bagus dari biasanya, memakai wewangian dan melayani Abu Thalhah. Setelah Abu Thalhah merasa kenyang dan puas, di akhir malam Ummu Sulaim berkata kepada suaminya, “Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu seandainya ada suatu kaum menitipkan barangnya kepada suatu keluarga kemudian ketika mereka mengambil titipan tersebut, maka bolehkah keluarga tersebut menolaknya?” Abu Thalhah menjawab, “Tentu saja tidak boleh.” Kemudian wanita mukminah ini berkata lagi, “Bagaimana pendapatmu jika keluarga tersebut berkeberatan tatkala titipannya diambil setelah dia sudah dapat memanfaatkannya?” Abu Thalhah berkata, “berarti mereka tidak adil”. Ummu Sulaim lalu berkata, “Sesungguhnya anakmu adalah titipan Allah dan Allah telah mengambilnya kembali, maka tabahkanlah hatimu dengan meninggalnya anakmu.”

Abu Thalhah tak kuasa menahan marah, dan beliau berkata berulang-ulang “Kau biarkan aku dalam keadaan seperti ini baru kamu kabari tentang anakku?” Sampai akhirnya beliau mengucap, “Innalillahi wa inna ilaihi rojiun” lalu bertahmid hingga jiwanya tenang. Rupanya karena ketabahan mereka, Allah berkehendak Ummu Sulaim untuk mengandung seorang anak yang kemudian dinamai Abdullah.

Saya sebagai seorang wanita, belum tentu setegar Ummu Sulaim. Walau saat ini belum memiliki anak, tapi saya bisa merasakan bagaimana rasanya ditinggal pergi seorang yang sangat kita sayangi. Semoga cerita ini bisa jadi pelajaran untuk kita semua.
MyEm0.Com

7 silaturahim:

Awam | October 18, 2010 at 10:48 PM  

Wah, dalem banget. Rupanya dah mulai main dalem-daleman nih.

asepsaiba | October 19, 2010 at 9:22 AM  

Semoga kita bisa meneladani beliau ya Cha..

MT | October 19, 2010 at 10:20 AM  

alhamdulillah bisa membaca kisah sahabat nabi Muhammad SAW. di sini
terima kasih

ENENG OCHA | October 19, 2010 at 12:27 PM  

@ Kang MT
alhamdulillah, saya hanya belajar berbagi, semoga bisa terus berbagi :)

@ kang Asep
iya Kang, terus belajar :)

@ Kang Awam
mulai main salem Kang, mau jadi istri sholehah kan... amiin.
^_^

ENENG OCHA | October 19, 2010 at 12:28 PM  

eh, main dalem maksude Kang Awam... salah pencet :P

Asop | October 19, 2010 at 5:21 PM  

Subhanallah... Tegar sekali... :cry:

Semoga kita semua bisa mencontohnya... TT__TT

ENENG OCHA | October 19, 2010 at 7:25 PM  

mudah-mudahan Kang :)

Tu comentario será moderado la primera vez que lo hagas al igual que si incluyes enlaces. A partir de ahi no ser necesario si usas los mismos datos y mantienes la cordura. No se publicarán insultos, difamaciones o faltas de respeto hacia los lectores y comentaristas de este blog.