18.9.10

Bahan Muhasabah I


Selama dua minggu ini, dilewatkan dengan silaturahim sana-sini... Mumpung lagi bisa...!!! Kemarin adalah salah satu awakening lagi buat saya, silaturahim kemarin merupakan salah satu bahan muhasabah bagi saya. Satu kesempatan, berbincang dengan seorang wanita yang umurnya di atas saya beberapa tahun, kelihatannya beliau kisaran 30 tahun, beranak dua. Kedua bidadari kecilnya... subhanallah, sangat menggemaskan! Saking menggemaskan dan sangat aktif dimasa usianya, anak pertamanya selalu aktif bertanya sana-sini dan sangat supel dengan siapa saja... Saya saja yang baru dua-tiga kali bertemu sudah sangat akrab diajaknya ngobrol, lucunya, semestinya dia memanggil saya "Uwa" (read: Tante yang dituakan) malahan dipanggil "Teteh"! ehm... kemungkinan karena wajah saya yang belia dan terlihat muda *ngarep banget diomongin begini* Sehingga ibunya berulang kali mengingatkannya untuk selalu memanggil saya "Uwa", tetapi saya sangat sangat tidak keberatan kok dipanggil dengan sebutan "Teteh" hehe...

Bidadari kecilnya masih dalam gendongan beliau, karena masih berusia 4 bulan. Untuk bidadari terkecilnya, saya baru bertemu satu kali ini, cantik...!!! Dan yang bikin bingung sekaligus seneng, setiap dia menatap atau melihat saya, kemudian saya membalas tatapannya, dia selalu tersenyum malu kemudian menutup mukanya. Hmmm... apakah muka saya memang selucu itu ya untuk para balita? Karena hal ini ga cuman terjadi dua-tiga kali saja, tetapi berulang kali!

Anyway... saya anggap ini berkah dari Allah MyEm0.Com

Ketika bidadari pertamanya berkeras ingin main ke rumah sebelah, dan dibolehkan oleh beliau, maka kita punya kesempatan untuk chit-chat :) chit-chat seputar saya, kemudian dia, teman-teman saya, kemudian keluarganya... Dan... satu topik yang membuat saya malu, beliau bercerita kalo bidadari pertamanya yang sudah masuk TK berceloteh padanya, "Ibu, kata Bunda di sekolah, perempuan itu harus pake jilbab, Ibu kapan mau pake jilbab?" Kemudian beliau menimpali, "Iya, nanti pake ya..." (sembari tersenyum)

Lalu beliau melanjutkan, "Sebenernya mah kepengen udah ada Teh, tapi mau gimana... Uang buat beli bajunya lagi itu belum ada, sekarang aja pake baju waktu jaman gadis... Uangnya abias terus buat biaya sekolah, obat dari dokter sama susu si kecil!" Katanya sembari mengucapkannya dengan nada bercanda. Masya Allah! Saya malu... Saya merasa nikmat Allah yang sekarang dirasa selalu membuatku terus bersyukur berada dalam kondisi saat ini. Ternyata orang-orang di sekitarku masih ada yang merasa kekurangan. Masih ada yang mengalami fase "Sulitnya mengenakan Hijab" yang dalam hal ini karena masalah finansial.


Sedih sekaligus merasa bersyukur, sedih karena ikut berusaha merasakan apa yang beliau rasakan, tetapi sekaligus bersyukur karena kondisiku saat ini dengan bermuhasabah kembali untuk diri sendiri, keluarga dan orang-orang di sekitarku. Alhamdulillah Allah membukakan pintu-Nya kembali untuk bisa berbagi dengan sesama, terlebih berbagi untuk menghijabkan seseorang, senangnyaaa!!! Ga sabar nih nunggu hari dimana beliau benar-benar istiqomah untuk berhijab...
MyEm0.Com

Saya yakin sekali hari itu akan datang, bismillah! Ada yang mau ikut berbagi?

Gambar dari sini dan sini.

5 silaturahim:

Miftahgeek | September 18, 2010 at 4:01 PM  

Kirain cuma masalah niat doank --a

ENENG OCHA | September 20, 2010 at 8:50 PM  

@ Miftah
maksudnya gimana nih?
kalo maksudnya seperti yang saya tangkap, yah biarkan dia hanya sejauh niat semata, saya memandangnya sebagai cara Allah mengingatkan kita untuk berbagi. Sudah banyakkah sodaqoh yang kita perbuat selama ini?

itung-itung "tabungan" akhirat ^^

Awam | September 30, 2010 at 8:38 AM  

Ocha, OOT ya.
Terus terang, ingatanku yg dah tua ini bikin ketuker-tuker antara dirimu (ocha) dengan echa(imutenan). Ketika dah bersapa dengan echa, misalnya, aku merasa dah bersilaturahmi dengan dirimu juga.
Sekarang baru benar-benar sadar bahwa kalian itu beda. Sori beratsss.

ENENG OCHA | October 1, 2010 at 9:04 PM  

@ Pak Awam :
heuheu... memang kalo belum kopdar akan tertukar terus Pak... insyaAllah sekarang mah udah gag ya Pak? Mudah-mudahan bisa bersilaturahim langsung secepatnya :)

herizal alwi | February 13, 2012 at 9:07 PM  

Seorang ulama’ mursyid bermadah “Masa itu adalah umur kita, kalau kita tidak mengisi masa dengan sebaik-baiknya bererti kita telah mensia-siakan umur kita”.

Tempoh perjalanan kehidupan di dunia ini cukup singkat. Mungkin kita rasa hidup 60 atau 70 tahun sebagai suatu masa yang agak panjang. Namun hakikatnya kebanyakan kita lebih banyak membuang usia sia-sia berbanding menggunakan setiap detik yang ada dengan penuh manfaat.

Belayar di lautan kehidupan, biarpun tidak tahu ke mana arah yang hendak di tuju. Kita ini telah diarah jalan mana yang harus dituju. Telah disediakan kemudi, telah diberi pendayung. Cuma tinggal untuk melayarkan bahtera kehidupan sahaja.

Tu comentario será moderado la primera vez que lo hagas al igual que si incluyes enlaces. A partir de ahi no ser necesario si usas los mismos datos y mantienes la cordura. No se publicarán insultos, difamaciones o faltas de respeto hacia los lectores y comentaristas de este blog.