21.1.10

Mengajari Cinta Belajar Ikhlas

Banyak yang bilang cinta itu buta
Sering cinta dikatakan tak mengenal ruang dan waktu
Tak jarang orang mengatakan cinta itu egois
Hmm… apa bener ya?

Tapi, bagaimana jika cinta ini dikaitkan kepada makhluk ataupun materi? Bolehkah? Banyak sekali pop song yang mendramatisir cinta kepada makhluk sebagai sesuatu yang harus dilakukan, seolah-olah hidup tak bermakna tanpa mencintai sepenuh hati dan sepenuh jiwa tanpa terkecuali, gak boleh gak… :D Bahkan banyak lagu yang menggambarkan hidup seseorang yang rela mati untuk kekasihnya. Hmmm… Jika memang kaitannya cinta mati kepada Sang Khalik sih tak mengapa, malah itu HARUS!

Saya jadi teringat firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Hai anak Adam (manusia), pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS.Al-A’raf : 31). Disini jelas tertulis bahwa Allah tidak suka kalo kita melakukan sesuatu secara berlebihan, dalam hal apapun. So… lakukan semuanya dengan sewajarnya :)

Namun pada kenyataannya, saya tidak bisa memungkiri bahwa segala sesuatu yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala cenderung bersifat nikmat ataupun menggiurkan. Astagfirulloh.. disitulah peran syaitan agar kita terlena.

"Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan diantara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanya kesenangan yang menipu." (QS. Al-Hadid-57 : 20)

Dalam ayat lain Allah berfirman,
"Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan disisi Allah ada tempat kembali yang baik (surga)." (QS. Ali-Imran-3 : 14)

Juga pada ayat lain,
"Dan tidaklah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui." (QS. Al-Ankabut-29 : 64)

Dari firman-firman Allah di atas, dapat saya simpulkan bahwa kita selayaknya harus bisa memilah dengan bijak yang namanya “kesenangan”, “permainan”, “kecintaan terhadap sesuatu” sebenernya adalah pemberian Allah sehingga kita bias selalu bersyukur dan bertaqwa kepada-Nya.

Terlebih cinta kepada makhluk, itu hanyalah kamuflase syaitan sehingga kita lebih mencintai makhluk-Nya dibanding pencipta-Nya. Naudzubillahi min dzalik. Terus terang saya pernah hampir terjerumus pada kecintaan tersebut. Merasakan bagaimana rasanya dicintai, diperhatikan, disayangi. Merasakan kerinduan bila tak bertemu walau sehari saja. Pokoknya yang lebay-lebay deh kalo seseorang yang ceritanya sedang dilanda cinta. Aiiihhh… I promise not to use that word anymore, hehehe…
Tapi sekarang, alhamdulillah saya sudah mendapatkan hidayah, at least I’m trying to learn now… Belajar kan gak bisa langsung jebret! Belajar perlu proses, dan ini yang sedang saya lakukan sekarang. Belajar untuk mencintai Allah lebih dalam lagi untuk pada akhirnya bertemu jannah-Nya. Amin.

Memang pada awalnya sangat berat untuk “hijrah” terlebih dengan godaan-godaannya karena merasa dulu rasanya hal itu “dibolehkan” oleh lingkungan, alhamdulillah saya dipertemukan dengan komunitas yang selalu membuat saya tetap istiqomah. Yah belum banget-banget sihh tapi saya sedang berusaha sekali saat ini *crossing my finger* Mudah-mudahan bisa jadi berkah untuk saya beserta keluarga saya, ataupun “calon” keluarga saya :D

Sejalan dengan pengalaman sendiri ataupun yang pernah saya baca ataupun yang pernah diceritakan, saya mulai belajar mengontrol rasa cinta yang saya rasakan untuk makhluk Allah. Awalnya sungguh berat karena saya sadari saya hanya manusia biasa yang mudah terlena. Tapi Allah sangat sayaaaaang banget sehingga saya diberikan mata kuliah hidup yang namanya “sabar” dan “ikhlas”. Bagaimana bisa menggunakan manajemen perasaan ini semata-mata untuk ibadah karena Allah ta’ala.

Fiuhhh…! Sampai saat ini saya terus “menikmati” semuanya…. Syukur maupun cobaan yang Allah hadiahkan kepada saya. Walo saya yakin nilai dua mata kuliah ini belum mencapai memuaskan, tapi saya terus semangat mencoba terus memahami, memaknai dan mengaplikasikannya dalam kehidupan ini. Doakan saya yaaah…


Referensi dari sini

2 silaturahim:

Anonymous | February 10, 2010 at 2:09 PM  

semua yang anda tulis memang benar adanya karena mengambil dari ayat2 Allah yg merupakan perkataan atau firmanNya. Bahkan dalam surat Al Kahfi ayat 110 : Jika engkau ingin perjumpaan denganKu maka berbuatlah amal kebaikan dan beribadahlah dengan tidak mempersekutukan sesuatupun denganKu.Yah termasuk terlalu fokus pada manusia , benda, jabatan,profesi melebihi fokus kecintaan pada Allah, dan inilah yg menurut hadits dikatakan dosa yang paling ditakuti oleh Rasulullah " syirik tersamar" yg kadang tak disadari. Jadi tak ada lain selalulah berlindung pada Allah dari segala bentuk dosa syirik tsb. Amin.( dikirim dari sesorang yg dsbt.kan sbg Nurul Fatimah]

ENENG OCHA | February 12, 2010 at 11:19 AM  

alhamdulillah, syukron sudah mau mampir ke blog sederhana ini :) barokallah ukhti Nurul Fatimah.

Tu comentario será moderado la primera vez que lo hagas al igual que si incluyes enlaces. A partir de ahi no ser necesario si usas los mismos datos y mantienes la cordura. No se publicarán insultos, difamaciones o faltas de respeto hacia los lectores y comentaristas de este blog.