28.12.09

Ikhlas Dipoligami?

Salah satu kabar yang cukup ramai digunjingkan masyarakat, mengenai terbentuknya Klub Poligami Indonesia yang baru saja disahkan di Bandung. Kenapa di Bandung ya??? Apa karena di Paris Van Java banyak lelaki yang berpoligami? Ada yang tau?

Anyway, saya posting ini karena berpikir sendiri, emang ada maslahatnya ya terbentuknya klub tersebut? Kira-kira maslahatnya untuk mereka aja or ada kebagian juga maslahatnya buat kita? Satu hal yang terbersit dalam otak saya gunanya klub ini adalah ketika kita pengen tau calon suami kita atau (bahkan..) suami kita termasuk pelaku poligami or gag...?! Sapa tau aja iseng jadi anggota klub ini, or bahkan jadi pengurusnya, hehe...

Terus terang saya termasuk orang yang anti poligami. Saya sangat takut dipoligami. So please ya Allah, jangan sampai saya dimadu or saya menjadi madu, amin (curhat sekaligus berdoa boleh kan?!). Walo saya mengetahui wanita yang dimadu dijamin masuk surga. Tetapi wanita yang mana dulu? Dan suami yang seperti apa dulu sehingga istrinya merupakan ahli surga? So pasti ada ketentuannya dong...!

Saya juga mengetahui bahwa konon katanya LELAKI tidak bisa hidup dengan satu wanita. Lelaki secara genetis dilahirkan sebagai makhluk poligami, untuk memperkuat wacana itu juga ada ayat AlQuran yang sudah sangat terkenal itu kan. Oke, memang Islam tidak melarang lelaki berpoligami, tetapi terkadang beberapa makhluk yang bernama laki-laki menggunakan ayat AlQuran itu untuk memperkuat pernyataan mereka, sementara mereka tidak menuntaskan ayat tersebut sampai habis. Lihatlah kalimat terakhir dari ayat tersebut. Dari kalimat terakhir inilah betapa Maha Adil Allah SWT. Karena menurut saya, hanya sedikit bahkan hampir tidak ada manusia yang berbuat adil. Konteksnya manusia ya, kalo nabi lain lagi :)

Ada hal lucu yang terjadi sama saya, semenjak remaja tepatnya bangku SMA, teman yang saya miliki kebanyakan lelaki, dan teman-teman lelaki yang akrab dengan saya cenderung suka gonta-ganti pacar atau bahkan punya pacar lebih dari 2 dalam satu waktu. Alhamdulillah walo begitu mereka sangat menghargai saya sebagai "sobat" mereka, bahkan sangat melindungi keberadaan saya jika ada cowo yang PDKT, yah... udah dianggap sodara mereka sendiri lah...

Ketakutan itu muncul kemungkinan berawal dari situ kali ya... *mikir-mikir* karena saya tahu kemampuan laki-laki dalam menaklukan wanita tuh seperti apa... Jadi saya tau tanpa perlu mengalami, walo patah hati juga pernah beberapa kali saya rasakan.

Dipikir-pikir lagi sebenernya poligami adalah sebuah pilihan hidup, saya ga bisa melarang si A, or si B, or si Z untuk ga boleh poligami. Karena mereka memilih setuju berpoligami atau dipoligami. Makna yang saya ambil untuk bisa sukses berpoligami adalah IKHLAS. Saya pikir kunci utamanya itu, terutama untuk wanitanya ya... Ikhlas dipoligami semata-mata untuk beribadah karena Allah. Menulis ini memang gampang, ga semudah pelaksanaannya. Karena kita cuma manusia yang juga punya perasaan dan rasa ego.

Saya pernah diceritakan oleh seorang teman, ada seorang wanita A yang hanya mau dinikahi oleh seorang lelaki padahal lelaki itu udah punya isteri. Bukan karena wanita tersebut berselingkuh atau berkhalwat dengan lelaki tersebut... Bukan! Tetapi karena wanita ini terlanjur simpati dengan akhlak lelakinya. Disini saya mencoba melihat dari sisi wanita A, bagaimana wanita A memilih untuk diposisikan sebagai istri kedua padahal banyak pemuda-pemuda single di lingkungannya. So... Ini (sekali lagi) adalah sebuah pilihan hidup! Sementara saya memilih untuk TIDAK mengambil poligami sebagai pilihan hidup saya. Saya MEMILIH MONOGAMI sebagai pilihan hidup saya :)

Sebenarnya saya berat menulis postingan ini, terlebih topiknya yang... Hmm... Apa namanya ya... Sangat mudah memancing argumen :p tapi akhirnya diposting juga deh... Karena saya ingin membebaskan diri saya untuk membahas apapun selama masih salam koridor yang jelas :)

7 silaturahim:

echaimutenan | December 29, 2009 at 5:51 PM  

saya ngebolehin suami poligami....tapi tergantung ikhlas gak gwnya wkwkwkk

ENENG OCHA | December 30, 2009 at 8:20 AM  

jiahhh... echa.... itu mah sama aja sama gw... wkwkwkwk... andai boleh memilih dan mendapatkan kesempatan aquw bisa dijadikan sebagai Khadijah-nya suamiku.

ENENG OCHA | December 30, 2009 at 8:20 AM  

AMin.

Awam | January 3, 2010 at 6:46 AM  

Pendapatku ttg poligami kiranya dapat disimak dalam kategori itu di blogku.

Soal "madu", kan emang istri mesti jadi seperti madu yang melezatkan dan menyehatkan suami? He he he (madu lebah).

Saran: mungkin sekali-sekali, perempuan mesti berinisiatif dulu ambil alih urusan poligami. Merekalah yang mesti bikin klub/jaringan untuk saling memberdayakan diri sesama perempuan (yang memang telah berkeputusan ambil jalur poligami). Merekalah para CEO-nya, lelaki tinggal "terima beres" aja. Merekalah yang mesti pegang kendali atas "korporasi global poligami" itu. He he he, kira2 begitulah "ide alternatifku". Setuju gak Cha?

ENENG OCHA | January 3, 2010 at 1:19 PM  

To Pak Awam :
sampai saat ini saya belum jadi wanita yang super sabar dalam menyikapi poligami Pak, alih-alih jadi CEO global poligami segala... wkwkwkwk... ada advice Pak?

Awam | January 4, 2010 at 12:44 AM  

Rasanya bukan cuma Ocha yang "gak sabar". Lagipula, pilihan normal dan ideal memang monogami.

Namun, tak ada salahnya topik-topik soal poligami dibicarakan secara santai dengan pasangan kita, selagi tidak/belum ada masalah ke arah itu sehingga kita bisa jernih menimbang-nimbangnya.

Soal "saran alternatifku" sebelum ini, hal itu hanya bisa dilakukan jika minimal posisi suami sudah bisa berdampingan sejajar dengan istri atau malah dia bersedia sedikit "mengataskan" istri, dst. Ini memang agak utopis dan sebaiknya untuk aku sendiri aja. Jadi, anggap ini sekadar sarana bertegur sapa aja.

Sori, Ocha, aku berpanjang-panjang nih.

ENENG OCHA | January 4, 2010 at 11:51 AM  

its ok Pak, hehehe... lucu juga kalo memang poligami ada dalam negeri utopia, dan itu malah dimanage sama sang isteri... What a wonderful world indeed!

Tu comentario será moderado la primera vez que lo hagas al igual que si incluyes enlaces. A partir de ahi no ser necesario si usas los mismos datos y mantienes la cordura. No se publicarán insultos, difamaciones o faltas de respeto hacia los lectores y comentaristas de este blog.