18.10.08

Apple for an Angel

Publikasi: 30/08/2004 09:23 WIB


“Pada berbagai tahap kehidupan kita, tanda-tanda cinta yang kita temui itu beragam: ketergantungan, daya tarik, kepuasan, kecemasan, kesetiaan, kesedihan, tetapi di dalam hati, sumbernya selalu sama. Manusia mempunyai sedikit sekali kemampuan untuk saling berhubungan dengan sesamanya, mensyukuri apa adanya.”


eramuslim - Dia berjalan dengan mata menatap ke bawah, kepala tertunduk. Ketika dia melihatku, dia bicara, dan aku menangkap pandangannya. Dia lusuh dan kumal, tak ada cahaya di matanya. Dia berkata, “Assalaamu ‘Alaykum.” Begitu sopannya dia.


Dengan lembut aku menjawab salamnya, “Wa ‘Alaykum salaam.” Aku terus berjalan dalam kesunyian, pemuda ini - yang tak kuketahui siapa namanya - telah membawa hatiku pergi jauh, entah ke mana.

Aku menatap pada kedua matanya, mengamati sebuah harapan yang pernah sirna, kataku dalam hati, “Bagaimanakah perasaan ibu yang melahirkannya? Bagaimanakah perasaan ibu yang telah menyaksikan putranya tumbuh seperti ini?”. Beberapa waktu kemudian kudapati jawaban itu tak akan pernah ada, ibunya telah meninggal -tidak beberapa lama setelah ia lahir. Rupanya ia seorang piatu!


Kemudian, aku selalu dikejutkannya pada hari-hari yang lain, dengan salamnya yang tulus dan dengan ekspresi wajahnya yang malu-malu. Ketika sengaja menatap ke dalam kedua bola matanya kali ini, aku kembali dikejutkan dengan binar mata yang sekarang hadir. Aku bersyukur, semoga saja itu memang karena aku tidak mengabaikannya meski hanya dengan sebuah senyuman.


Aku ingat ketika aku pertama kali mengamatinya dengan teliti. Pikiranku mengembara entah ke mana. Antara terharu, iba dan rasa kasihan yang tak terkira. Kupikir sudah seharusnya ada sisa-sisa penghargaan pada seorang anak yang terlahir sebagai seorang manusia dengan kerusakan mental yang parah. Tidak hanya itu, ia juga memiliki mata yang jauh lebih besar dari ukuran normal, tanpa naungan alis yang enggan tumbuh di atasnya. Kulitnya kasar dan bersisik, rambutnya merah seperti rambut jagung, giginya besar-besar, hitam, jarang-jarang dan terlalu maju ke depan pada rahang atas. Hal itu membuatnya tampak seperti menyeringai jika tersenyum. Hal itu akan membuat anak-anak kecil akan berlari-lari dan mengolok-oloknya dari jauh.


“Assalaamu ‘Alaykum wa RohmatuLlaahi wa Barokaatuh.” Suatu hari ia mengucapkan salam dengan sempurna begitu aku lewat. Seingatku Ini pertama kali ia mengucapkan salam dengan lengkap. Aku baru sadar ia sangat bahagia hanya karena aku selalu menjawab salamnya. Maka pagi itu, aku ikut-ikutan menjawab salam tanpa kusingkat sedikitpun. Sejujurnya jawaban salamku hanya sebetik rasa kasihan. Mengapa Allah menciptakan makhluk yang jauh dari sempurna seperti ini, tanyaku dalam hati. Biarlah, Allah Maha Tahu. Tapi ya Allah, betapa pilu ketika aku melihat ia juga mengucapkan salam pada setiap orang, tapi tak seorangpun yang menanggapinya.


Rupanya ini alasannya. Rupanya ini yang membuatnya bahagia jika bertemu denganku. Sebuah pengakuan. Pengakuan sebagai manusia meskipun jauh dari kesempurnaan fisik dan mental yang seharusnya dimiliki.


Ini memang sangat menyedihkan. Aku menyelami perasaannya, tapi aku juga tahu mengapa orang-orang yang lewat mengacuhkannya. Apakah perlu menjawab seorang pemuda cacat mental dengan kedewasaan seperti anak-anak yang bahkan belum pantas terdaftar pada sekolah dasar? Mungkin itu pikiran kebanyakan orang. Tapi aku tidak.


Aku berusaha menjawab salamnya, selalu dan sebisaku. Belakangan ini ia justru menyadarkanku tentang hakikat salam yang seharusnya. Jika ia mengucapkan salam padaku lebih dulu, aku menjawabnya dengan lengkap dan tanpa sadar membuatku berpikir. Berpikir tentang makna salam itu sendiri. “Wa ‘Alaykum Salaam wa RohmatuLlaah wa Barokaatuh” -Dan salam kesejahteraan juga bagimu dengan Rahmat Allah dan Barokah Allah, doaku dalam hati. sepanjang hidupku, telah banyak kulakukan perbuatan tercela pada orang lain. Aku sadar mengapa salam menjadi hak seorang muslim atas saudaranya. Barangkali doa dalam salam itu berfungsi untuk menghapuskan dosa-dosa yang ada. Ia adalah kebaikan yang mudah diberikan kepada saudara-saudara kita. Sebuah doa, bukan semata-mata ungkapan formalitas tanpa makna.

Rupanya aku baru menyadari mengapa Allah menciptakan pemuda cacat ini, kehadirannya bukan tidak berguna seperti dugaanku. Tapi menyadarkan orang-orang sepertiku tentang arti bersyukur pada nikmat Allah yang mudah terlihat tapi sukar di lihat. Nikmat kesempurnaan fisik, kesehatan mental, dan kenikmatan iman.


Terima kasih Jo, kataku dalam hati. Jo adalah nama pemuda itu. Akhirnya aku tahu ia tinggal di sebuah kamar petak tidak jauh dari kost-kostanku. Ia rajin pergi ke masjid sebelah rumah kostku, belajar mengaji bersama anak-anak kecil dengan usia minimal 10 tahun di bawah usianya. Aku diberi tahu anak-anak itu -yang tak lain adalah murid-murid ngajiku dulu. Mereka mengatakan bahwa Jo tidak pernah naik dari Iqro 4. Meski begitu ia rajin sekali hadir. Aku sendiri belum pernah melihatnya sewaktu mengajar, atau karena aku tidak memperhatikan saja? Entahlah, kesibukan kuliahku di tingkat akhir membuatku jarang lagi mengajar anak-anak kecil itu. Semoga Allah mengampuniku atas amanah yang telah kulalaikan.


Suatu hari aku terkejut mendapati Jo berdiri di depan pintu rumah kostku. Gayanya malu-malu, kemudian ia mengucap salam seperti biasa. Aku baru saja selesai membenahi semua barang-barangku dan mengepaknya dalam beberapa kardus besar. Hari ini aku pindah kost.


“Teteh mau pindah?” ia bertanya. Aku menjawab dengan sebuah anggukan. Dalam sekejab tatapan matanya menjadi sayu, seolah-olah sangat sedih mendengar berita itu. Hatiku trenyuh.


“Teteh …” ia berkata lagi. Dikeluarkannya sebutir apel lusuh dari balik kantong bajunya yang kumal. Apel besar berwarna hijau masih lengkap dengan tempelan merk Switzerland. Itu apel yang hanya bisa di dapat di departmen store, pikirku. Sungguh, Aku tidak bisa menduga maksud ia menunjukkan apel itu padaku.


“Saya memecah celengan ayam saya buat beli apel ini, ini buat teteh.” Dia berkata. Diangsurkannya apel itu padaku. Oh, Aku bertanya-tanya dalam hati “Apakah ini tidak salah?”


Meski begitu, kuterima saja apel itu dengan tatapan penuh tanya, ia hanya tersipu malu lalu berkata pelan-pelan, “Ustadz bilang, di surga ada banyak bidadari yang baik. Bidadari itu juga hanya makan makanan yang baik-baik di surga, di sana banyak buah-buahan…”


Aku menatapnya lebih dalam. Berusaha mencari makna dibalik kata-kata yang belum kupahami.


“Kata ustadz lagi, bidadari surga itu juga ada di dunia dalam bentuk wanita sholihah..” di sini kalimatnya berhenti, ia tersenyum malu-malu dan menundukkan kepalanya dalam-dalam, lalu melanjutkan “kata ustadz juga, wanita sholihah itu salah satu cirinya baik hati dan berjilbab rapih seperti teteh …”


Aku terharu mendengar penjelasannya yang sederhana namun sarat makna. Tanpa sadar meremas-remas ujung jilbabku, kuingat Nabi Muhammad SAW bersabda : “Jangan anggap remeh suatu perbuatan baik, bahkan jikapun kamu bertemu saudaramu dengan muka tersenyum (karena itu adalah perbuatan yang berat timbangan kebaikannya).”


Kemudian, sewaktu aku menatap kembali ke dalam bola matanya, aku tahu bahwa karena pemuda buruk rupa yang cacat mental ini, aku tidak hanya telah diajak ke dalam dunia perenungan dan kesunyian yang aneh -aku telah diberi kesempatan untuk menghargai orang secara terbuka untuk pertama kalinya dan untuk ‘mengenang hal-hal yang baik dalam diri orang lain’, sekecil apapun itu. Setelah hari itu, tampaknya jauh lebih mudah untuk memuji dan meluhurkan Allah atas semua yang kuterima dalam hidupku yang ‘benar, mulia, dan adil’ -termasuk sebutir apel dari seorang pemuda cacat mental seperti Jo. Mungkin baginya hadiah terbesar yang bisa dipersembahkannya kepadaku adalah apel itu.



Bukan masalah soal harganya, namun nilai makna yang terkandung dalam apel itu membuatku terharu. Pikirannya memang sangat sederhana, tapi itu justru membuatnya mudah menyerap nilai-nilai kebaikan yang diberikan orang kepadanya. Dengan seulas senyum saja, ia telah memberiku predikat seseorang yang baik-hati. Dengan hanya menjawab salamnya saja ia telah mensejajarkanku dengan bidadari surga! Aku sungguh terharu!


Tak akan kulupa dia, saat dia mengiringi kepindahanku dengan tatapan matanya, karena dia telah memberiku sesuatu yang tak akan pernah bisa kubayar. Dia berikan padaku kesempatan untuk memberi yang kumampu, kesempatan untuk menunjukkan cinta pada mereka yang tersingkir –kesempatan untuk sekedar tersenyum dan menjawab salam ketika tak seorang pun bersedia– kesempatan untuk menjadi manusia istimewa, kesempatan untuk melakukan kebaikan.


Aku akan selalu berterima kasih pada pemuda cacat mental itu karena menunjukkan padaku cinta dalam seuntai doa, untuk memberiku kesempatan menjadi seseorang yang memiliki kepekaan hati lebih banyak, untuk memberiku kesempatan menjawab ketukannya di pintu kalbuku.


Kau tahu, aku bukanlah bidadari, meski aku ingin sekali menjadi salah satunya. Aku telah melukai banyak orang dengan menjadi diriku, dan orang ini, orang yang cacat ini, yang tidak mengabaikan diriku, untuk sejenak melepaskan seorang bidadari untuk terbang bebas.


Aathierah (Aathierah@yahoo.fr)

Image taken from mattdavisphotography.blogspot.com & photographyblog.com

5.10.08

What Would You Do?

Saturday, October 4, 2008


I’ll do everything for myself and my family that have not been came true till now!

Sometimes I feel unconfident to myself for doing something that I believe I can’t do it right. But my friends said that I can do that perfectly right. I really hope that I can do like my friends said but… I don’t know… I always feel I can’t do it. But when time passed by, I have learned a few things. Besides learning by doing I also have to fight it first to find out the result either I passed or I failed. So… I will not fail before war is over. Insya Allah as long I am doing it for good, I will not fail. Amin.

Image taken from http://www.myqgaleri.org/

4.10.08

Cara Aman Agar Sholat Tenang Ketika ke Masjid :D

Thursday, October 2nd, 2008


Hehehe….
Pas liat foto ini aku cuman cengengesan aja… ^_^
Tapi bener juga, walo cuma sandal jepit ato sandal mahal sekalipun harus diusahakan biar gak ilang, apa lagi di mesjid pas sholat jumat. Wiiihh… itu juga kata tmen-temenku seh… pasti aja ilang walo cumin sandal jepit, sandal yang butut banget baru kaga ilang, hi hi hi!

Memang untuk sebagian orang hal kaya gini lebay alias berlebihan, ‘cuman sandal jepit doang, pake digituin segala! Kalo sandal bagus and mahal, baru pantes digituin’

Tapi…
Pernahkah kamu kembali berpikir, kalo ternyata seseorang yang memiliki sandal ini, untuk membeli sendal aja dia harus menyisihkan sebagian uangnya dan bahkan mengorbankan salah satu jadwal makannya? Jadi kalo sampe ilang dia bener-bener harus menyisihkan kembali uangnya untuk membeli sepasang sandal jepit. Sementara untuk sebagian dari kita mungkin tidak perlu bersusah payah jika hanya membeli sepasang sandal jepit yang maksimal harganya Rp. 10 ribu-an.

Terkadang foto seperti ini yang menimbulkan sedikit sisi kemanusiaan dari diriku, dan kembali membuat aku tetap berpikir untuk selalu melihat ke bawah dibandingkan membayangkan kehidupan mewah yang hanya bersifat duniawi. Bahwa masih banyak di luar sana yang masih kurang beruntung dariku. Bahwa masih banyak yang masih berpikir bagaimana caranya bisa makan nanti siang. Bahwa masih banyak ayah-ayah di luar sana yang pulang ke rumah di malam hari membawa sebungkus nasi untuk kelima anaknya yang kelaparan sementara sedari pagi sang ayah belum makan.

Dan banyak momen-momen yang aku pikirkan bahkan aku saksikan terkadang di jalanan yang membuatku selalu bersyukur padaMu ya Allah. Ada keinginan untuk membantu mereka, tapi apa yang kupunya? Hanya tenaga yang kupunya, tapi apakah bisa membantu mereka?

Sempat aku membantu dengan tenagaku bersama teman-teman sukarelawan yang lain. Kurasakan nikmat yang tak terkira mengalir di dalam hatiku. Senang, bahagia, haru, sedih, bangga, campur aduk jadi satu. Rasa syukur yang tak putus muncul ketika melihat senyum mungil di wajah mereka satu persatu. Ya Allah.. mereka masih kecil… tapi sudah harus merasakan kepahitan dunia. Ingin rasanya kurangkul semua untuk kubantu. Ingin rasanya kuberikan apa yang mereka butuhkan, semuanya. Tapi… saat ini rasanya gak mungkin….

Hanya doa… hanya doa saja yang dapat kuberikan untuk mereka. Semoga mereka dapat menjadi orang-orang dengan pribadi yang sholeh yang bisa merubah nasib mereka menjadi lebih baik. Amin.

Image taken from http://www.myqgaleri.org/

Batu Gantung itu Buatku Terbangun

Thursday, October 2nd, 2008
Bukti kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala batu tempat duduk Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wassalam saat Isra Mi'raj sampai kini masih tetap melayang di udara. Pada saat Nabi Muhammad mau Mi'raj batu tsb ikut, tetapi Nabi SAW menghentakan kakinya pada batu tsb, maksudnya agar batu tsb tidak usah ikut. Kisah Isra Mi'raj Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wassalam tentang batu gantung tsb yang berada dalam masjid Umar (Dome of the Rock) di Lingkungan Masjidil AQSHA di Yarusalem ini foto dari rekan saya, Riska sewaktu melawat Al Aqsa (yg sebenarnya) di Jerusalem, Subhanallah ... foto ini bisa lolos karena tidak diketahui oleh pihak israel yg menjaga tempatnya dengan sangat ketat. (Article taken from http://galeri.myquran.org/main.php?g2_view=dynamicalbum.PopularAlbum&g2_itemId=1429)

Subhanallah!
Allahu Akbar…! Allahu Akbar…! Allahu Akbar…!
Pertama kali lihat profil ini di Bulletin Friendster-ku, aku kaget, aku heran, aku seneng, aku bahagia, dan yang pasti aku mengucap syukur dan puji berulang-ulang ke hadiratMu Ya Allah… ternyata selama ini yang selalu aku yakini bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika Allah bilang ‘Kun Fayakun!’.

Gak berhenti-berhenti aku melihat foto ini, gak bosen-bosen terus kulihat setiap kali ada kesempatan. Ya Allah… Maha Besar, Maha Agung, Maha Keren deh! Karena foto ini juga sedikit bagian diriku kembali bangkit untuk mulai lagi berani membuat mimpi-mimpiku jadi nyata. Mudah-mudahan… Insya Allah…

3.10.08

KESINI DULU DEH!

.................................................................................................................................
For all readers, hope you will go to http://www.asiabersama.com/masuk/ke/sini/dulu/deh/neng-ocha. If you are interested, i would delighted to help you while confirmation untill end.